Senin, 21 Mei 2012

Kulit.

Buah

Inilah 24 Buah Tersehat di Dunia
KOMPAS.com
1. Acai berry
Buah ini memiliki kandungan antioksidan tinggi dibandingkan buah berry lainnya. Namun, buah ini sulit didapatkan dalam kondisi segar karena asalnya dari Brasil. Untuk itu, saran Glassman, Anda dapat menggunakan acai berry yang diolah berbentuk bubuk kemudian dicampur pada smoothie.
2. Apel
Apel adalah buah kaya serat. Pada bagian kulitnya baik apel warna merah maupun hijau memiliki kandungan quercetin, yang membantu melindungi Anda dari penyakit jantung dan alergi. Sebuah studi dari St George Hospital Medical School di London menemukan bahwa orang yang makan lima atau lebih buah apel memiliki fungsi paru-paru lebih baik.
3. Alpukat
Alpukat memiliki kandungan lemak tak jenuh yang dapat membantu menurunkan kolesterol jahat pada tubuh, sekaligus meningkatkan jumlah kolesterol baik. Lemak sehat dalam alpukat membantu penyerapan beta karoten dan likopen yang penting untuk kesehatan jantung.
4. Pisang
Buah pisang memiliki kandungan kalium yang membantu menurunkan tekanan darah Anda. Pisang adalah salah satu sumber karbohidrat sehat yang membantu meningkatkan metabolisme.
5. Blackberry
Blackberry merupakan buah kaya antioksidan. Menurut USDA, buah ini kaya polifenol yang dapat membantu mencegah penyakit jantung, kanker, dan osteoporosis.
6. Blueberry
Menurut penelitian, kadar flavonoid tinggi pada blueberry membantu menjaga fungsi otak seiring pertumbuhan usia. Tentunya bila dikonsumsi secara teratur. Wanita yang mengonsumsi blueberry mengalami perlambatan penuaan 2,5 tahun. Buah ini juga kaya mangan yang penting dalam proses metabolisme sehingga membuat Anda tetap langsing dan berenergi.
7. Blewah
Untuk mendapatkan kulit cerah dan lebih muda, coba pertimbangkan buah satu ini. Masuk dalam kategori buah super, karena blewah memiliki kandungan vitamin A berikut turunannya yang dapat meningkatkan reproduksi sel pada tubuh.
8. Buah Ceri
Ceri kaya akan antioksidan yang dapat mengurangi peradangan, trigliserida rendah, dan mengurangi kolesterol. Dalam penelitian terbaru di University of Michigan, ditemukan bahwa ceri dapat menurunkan peradangan pembuluh darah sampai 50 persen. Ceri juga baik untuk menurunkan berat badan dan kadar kolesterol.
9. Jeruk nipis
Baik jeruk nipis maupun jeruk keprok adalah buah sarat vitamin C. Vitamin C ini dapat memperbaiki kerusakan pada tubuh akibat paparan sinar matahari, mengatur kelenjar minyak, bahkan mencegah bintik-bintik tanda penuaan.
10. Cranberry
Buah ini sangat bersahabat terutama untuk perempuan. Cranberry dapat mencegah infeksi saluran kecing dan membantu melawan penyakit yang jauh lebih menakutkan, kanker ovarium. Buah ini, menurut studi Universitas Rutgers, digunakan untuk meningkatkan efektivitas obat kemoterapi. Meminum jus cranberry tanpa gula setiap hari meningkatkan lemak baik bagi tubuh.
11. Buah naga
Empat tahun lalu, sebuah penelitian di Universitas Putra Malaysia menemukan bahwa tubuh kita butuh asam lemak esensial. Sayangnya, asam lemak ini tidak dapat diproduksi oleh tubuh. Buah naga memiliki kandungan tersebut. Selain asam esensial, ada juga asam oleat yang membantu menurunkan kolesterol jahat dan meningkatkan kolesterol baik.
12. Anggur
Anggur masuk sebagai buah super karena kaya kandungan antioksidan yang disebut resveratrol. Kandungan ini akan membuat jantung lebih sehat. Para peneliti menemukan bahwa senyawa dalam ekstrak biji anggur akan melambatkan penyakit Alzheimer, mengalahkan sel-sel kanker di kepala dan leher.
13. Jeruk grapefruit
Konsumsi jeruk ini dapat menyehatkan jantung Anda. Buah ini juga membantu menurunkan kolesterol jahat. Penelitian terbaru, grapefruit bisa menghambat kerja enzim di dinding usus yang memperlambat masuknya obat ke aliran darah.
14. Kiwi
Jika Anda memiliki keluhan soal pencernaan, maka kiwi adalah jawabannya. Dalam sebuah penelitian, orang yang memiliki sindrom iritasi usus mengalami pengurangan gejala karena mengonsumsi dua kiwi sehari selama enam minggu. Bagi kulit, kiwi juga baik karena kaya serat dan memiliki prebiotik karbohidrat yang kompleks.
15. Orange
Buah ini sangat direkomendasikan untuk sistem kekebalan tubuh. Buah ini adalah sumber serat, kalium, kalsium, dan vitamin B 6 folat.
16. Pepaya
Pepaya adalah buah tropis yang penuh vitamin C. Selain itu, buah ini juga sumber vitamin A dan E, dua antioksidan kuat untuk melindungi diri dari penyakit jantung dan kanker usus besar.
17. Nanas
Nanas mengandung bromelain, yakni suatu enzim pencerna yang membantu memecah makanan untuk mengurangi kembung.
18. Plum
Plum mengandung antioksidan yang disebut asam chlorogenic. Menurut para peneliti dari Perancis, antioksidan dalam plum dapat menurunkan perilaku cemas.
19. Delima
Delima mengalahkan anggur merah untuk kandungan antioksidannya.
20. Buah labu
Labu sebenarnya buah yang kaya dengan beta karoten. Jika dikombinasikan dengan kalium maka dapat membantu mencegah penyakit tekanan darah tinggi.
21. Rasberry
Buah ini kaya serat, penuh vitamin C, dan mangan.
22. Strawberry
Buah ini penuh dengan vitamin C, sumber asam folat yang dapat membantu melindungi jantung Anda. Buah ini juga dapat memutihkan gigi secara alami.
23. Tomat
Tomat masuk ke dalam buah super, meskipun banyak orang masih menganggapnya sebagai sayur. Tomat memiliki kandungan antioksidan disebut likopen yang sangat jarang ditemukan pada buah super lainnya. Buah ini memiliki vitamin C tinggi, kalium, dan serat, serta kalorinya rendah.
24. Semangka
Semangka adalah salah satu buah dengan sumber vitamin A dan C. Buah ini memiliki likopen dua kali lebih banyak dibandingkan tomat.

Jumat, 18 Mei 2012

Dampak Isi Media


Dampak Isi Media
McGuire (1986) menyebutkan lima dampak media
(a) dampak dari kekerasan yang ada di media mempengaruhi tingkat agresifitas seseorang, 
(b) media mempengaruhi gambaran seseorang tentang konstruksi sosial dari realitas,
(c) dampak bias media pada 
 (d) dampak dari konten erotis dan seksual terhadap sifat dan perilaku sesorang, dan
(e) bagaimana media mempengaruhi aktifitas dan gaya seseorang. 
McQuail (1994) menjabarkan inti dari penelitian yang sering dilakukan mengenai dampak media (a) persebaran dan perkembangan ilmu pengetahuan dalam masyarakat,
(b) penyebaran dari perubahan,
(c) sosialisasi dari norma sosial yang ada, dan
(d) institusi dan adaptasi kebudayaan dan perubahannya.
Dampak Media pada Individu
Ada tiga bagian besar yang dikedepankan dalam pembahasan mengenai media individu. Yaitu, teori efek media, penelitian media media dan efek media yang berupa prilaku antisosial maupun prososial.
1. Teori Efek Media
Beberapa teori mengenai konsekuensi penggunaan media terhadap individu:
¨ Teori Peluru atau Teori Hypodermic. Media amat sangat berpengaruh dan dampaknya cepat seperti peluru atau jarum suntik hypodermic.
¨ Multistep Flow. Efek media tidak secara langsung terjadi, namun melalui pengaruh persoanl opinion leader. Pemimpin opini itu sendiri lebih banyak dipengaruhi elit media daripada saluran media massa sehari-hari.
¨ Efek Terbatas. Efek media terbatas karena khalayak dapat memilih pesan yang diinginkan.
2. Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory). Teori ini menjelaskan bahwa pemirsa meniru apa yang mereka lihat di media sebagai proses observational learning.
3. Teori Kultivasi. Teori ini berpendapat bahwa terpaan media massa menanamkan pandangan tentang dunia yang secara konsisten menghadirkan “kenyataan”.
4.  Priming. Teori ini menyatakan bahwa stimulasi gambaran media berhubungan dengan apa yang dipikirkan khalayak.
Penelitian Efek Media
Efek media berubah baik dalam kognisi, sikap, emosi atau prilaku sebagai hasil dari terpaan media massa. Ada bermacam metode penelitian untuk mempelajari hal tersebut, yang tiap jenis penelitian mempunyai kelebihan dan kekurangan. Beberapa penelitian efek media tersebut meliputi:
1. Pendekatan Deduktif. Pendekatan ini berdasarkan hukum sebab akibat. Efek media diprediksikan berdasar teori yang ada dan prediksi tersebut diuji secara observasi sistematis. Terpaan media massa biasanya dilihat sebagai “sebab” atau variabel bebas. Terpaan terhadap isi media dilihat sebagai “akibat”, yang bisa berupa prilaku antisosial maupun prososial, yang disebut varibel dependent.
2. Pendekatan Induktif. Lewat pendekatan ini, observasi dilakukan lebih dulu baru kemudian melahirkan teori. Pendekatan ini melihat bahwa media, budaya dan masyarakat saling mempengaruhi satu sama lain sehingga tidak ada aliran satu arah dari sebab ke akibat. Karena bersikap kritis terhadap media, sering juga pendekatan ini disebut dengan teori kritis.
3.  Metode Kualitatif vs. Kuantitatif. Metode kualitatif dipakai seperti dalam studi simbol dalam isi media. Sedang kuantitatif dipakai untuk menghitung temuan dan menganalisa dengan statistik hubungan antara variabel bebas dan variabel dependent.
4. Analisis Isi. Analisis isi mengkuantifikasikan isi media. Analisis isi dapat menggambarkan secara detil isi media dan mengidentifikasikan kecenderungan isi pada waktu tertentu. Hanya saja, analisis isi tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan media efek karena khalayak sering memahami media secara berbeda dengan peneliti.
5. Penelitian Eksperimental. Studi penelitian eksperimental terhadap efek media mengontrol kondisi yang diteliti secara cermat. Subyek eksperimen harus secara acak dibagi dalam kelompok untuk meminimalisasi dampak perbedaan individu di antara subyek, jika tidak hasilnya hanya akan menggambarkan karakter subyek dan bukan efek dari isi media.
6. Penelitian Survei. Studi ini lebih umum daripada penelitian eksperimental akrena yang dijadikan sampel mewakili populasi yang lebih luas. Penelitian ini bisa menghasilkan temuan yang ambivalen dengan sebab dan akibat. Seperti, dimungkinkan misalnya seorang anak yang agresif senang bermain video games yang berisi kekerasan, atau kekerasan itulah yang justru menyebabkan bermain video games. Atau dimungkinkan, antara prilaku kekerasan dan penggunaan video games disebabkan oleh faktor ketiga, seperti longgarnya pengawasan orang tua.
7. Penelitian Etnografi. Merupakan adaptasi dari teknik yang digunakan para antropolog untuk melihat budaya secara keseluruhan. Karenanya, etnografi merupakan cara alami untuk melihat dampak dari komunikasi media. Etnografi menempatkan media dalam konteks luas dari kehidupan dan budaya pengguna media. Meski terkadang menggunakan kueioner, etnografi sering dilihat sebagai alternatif penelitian survei. Survei memungkinkan untuk membandingkan banyak orang sesuai pertanyaan standar.
Efek Media
A. Prilaku Antisosial
Yang dimaksud dengan prilaku antisosial adalah bertentangan dengan norma-norma sosial yang ada. Termasuk di dalamnya pelanggaran hukum seperti pembunuhan, perkosaan ataupun narkotika. Para peneliti memberikan perhatian lebih pada tayangan kekerasan di televisi, namun begitu ada beberapa kategori efek media yang juga patut diberi perhatian, termasuk kecurigaan sosial, prilaku seksual dan penyalahgunaan obat-obatan.
1. Violence (Kekerasan). Efek kekerasan di televisi pada anak menjadi perhatian utama penelitian. Hal itu karena anak-anak mempunyai masalah dalam membedakan antara “dunia nyata” dan dunia lewat layar kaca. Anak-anak juga banyak menghabiskan waktu di depan televisi tanpa supervisi orang tua. Tak ketinggalan, anak-anak akan meniru kekerasan yang ditontonnya.
2. Prejudice (kecurigan). Media mempromosikan masalah seks, rasis dan hal intolerance lainnya. Media juga mendukung hadirnya stereotype, membuat generalisasi tentang sekelompok orang berdasar informasi yang terbatas. Stereotip media ini berpengaruh terhadap seluruh kelompok dalam masyarakat.
3. Prilaku Seksual. Hadirnya materi pornografi lewat majalah, video maupun internet menghadirkan kecenderungan baru efek seks dalam media: perkosaan dan pelecehan seksual.
4. Penyalahgunaan Narkoba. Tayangan mengenai rokok, minuman keras dan pemakaian narkoba ternyata meningkatkan konsumsi terhadap hal tersebut. Sehingga, ditengarai ada hubungan antara terpaan mengenai rokok, minuman keras dan pemakaian narkoba pada anak-anak dan remaja dengan konsumsi produk-produk tersebut.
5. Efek Media Komputer. Meluasnya pemakaian komputer dan internet menyebabkan beberapa dampak yang khusus pula. Seperti: kecanduan, depresi, prilaku antisosial dan computerphobia atau cyberphobia.
B. Prilaku Prososial
Berlawanan dengan antisosial, yang dimaksud dengan prilaku prososial adalah prilaku yang memiliki nilai-nilai positif yang ingin ditingkatakan pada anak-anak dan masyarakat, seperti kerja sama, berbagi, toleran, cinta kasih, penghormatan, penggunaan kontrasepsi, meningkatkan kemampuan membaca dan sebagainya.
Promosi prilaku prososial dilakukan melalui: kampanye informasi, pendidikan nonformal, mewaspadai efek iklan serta efek komunikasi politik.
Dampak Media Pada Anak
Ahli perkembangan anak dari Amerika Serikat T. Berry Brazelton, M.D., mewanti-wanti bahwa media sungguh-sungguh merupakan kompetitor terbesar bagi para orangtua. Studi dari University of Maryland mendapatkan bahwa waktu berinteraksi anak-anak Amerika dengan orangtua mereka telah turun hingga 40% atau menjadi sekitar 17 jam seminggu dibanding dengan mereka yang lahir di tahun 1965an. Di sisi lain, waktu yang mereka gunakan untuk berinteraksi dengan media meningkat lebih dari dua kali (Steyer, 2002).
Gejala berkurangnya waktu berinteraksi antara orangtua dan anak (usia pra-sekolah dan usia sekolah dasar) dan meningkatnya kuantitas serta kualitas interaksi anak dengan media disadari atau tidak, diakui atau tidak juga terjadi di masyarakat kita. Tingginya waktu yang mereka gunakan untuk mengakses media sudah pasti akan mengurangi kesempatan mereka untuk berinteraksi dengan teman sebaya, untuk bermain secara bebas dan alamiah, untuk kemampuan bersosialisasi, kemampuan empati, memahami peran dan tanggungjawab, dan sebagainya.
Berkurangnya waktu secara signifikan untuk melakukan hal-hal tersebut di atas pada anak usia pra sekolah hingga usia sekolah dasar, bisa mengurangi dan bahkan menghilangkan masa kanak-kanak mereka. Selain soal kesempatan bermain bebas yang menjadi berkurang dan bahkan hilang, maka masuknya materi-materi orang dewasa melalui media juga membuat dunia mereka tidak lagi murni dunia anak-anak. Bisa jadi perbincangan dan cerita-cerita mereka menjadi terkontaminasi oleh kasus-kasus artis dalam infotainmen, lagu-lagu yang mereka nyanyikan penuh dengan kata-kata cinta, dandanan bak artis dalam ‘Idola Cilik', dunia glamor dan gemerlap, budaya instan yang sering tergambar dalam sinetron, dan sebagainya.
Dalam bentuk lain, televisi juga telah menimbulkan dampak peniruan yang berakibat fatal. Beberapa kasus meniru adegan dalam televisi yang dilakukan oleh anak-anak di Indonesia dapat disebutkan misalnya peniruan adegan dalam acara Smack Down yang menewaskan setidaknya 3 anak usia sekolah dasar dan mencederai puluhan anak di berbagai wilayah di Indonesia. Kemudian kasus anak usia 10 tahun yang terjerat tali kepala Naruto di Semarang hingga meninggal. Terakhir, bulan Juli 2008 di Pontianak seorang anak usia 9 tahun meninggal karena terjerat tali ayunan karena bermain ‘mati-matian' yang menurut adiknya dia tiru dari tayangan televisi.
Teori tentang dampak media yang secara gamblang dapat menggambarkan dampak media pada anak di antaranya adalah ((Baran, 2006))
Teori Kultivasi
Teori ini dikembangkan oleh George Gerbner. Teori kultivasi menyatakan bahwa televisi memiliki pengaruh jangka panjang yang tidak terlalu besar, gradual, tidak langsung, kumulatif, dan signifikan. Dampak tersebut lebih terlihat dalam sikap dibanding perilaku. Mereka yang banyak menonton TV cenderung memiliki pandangan yang sama dengan apa yang ditampilkan oleh televisi.
Teori Belajar Sosial
Teori belajar sosial dikembangkan oleh Albert Bandura. Menurut Bandura, orang belajar sesuatu dari orang lain, dari pengamatan, peniruan, dan keteladanan. Dari situ, seseorang membentuk pemikiran mengenai bagaimana sebuah tindakan dilakukan. Dalam kesempatan selanjutnya, hal ini bisa menjadi pegangan dalam berperilaku. Teori ini menjelaskan perilaku manusia dalam interaksi timbal baliknya antara pengetahuan, perilaku, dan pengaruh lingkungan.